Agama yang Tergadaikan: dari jalan spiritual menjadi komoditas

Pendahuluan
Islam tumbuh dari sebuah pergolekan yang tak kunjung selesai antar kelompok, Dataran Hijas yang bergunung dan kering tidak membuat Masyarakat sekitar mendapatkan kesejahteraan. Pada musim panas, suhunya bisa mencapai 37 derajat selsius dengan kelembapan yang rendah. Fenomena seperti ini menjadikan kaum Arab memliki watak yang keras, dengan kondisi geografis yang tidak mencukupi segala kebutuhan kebudayaan bermukim, orang Arab terus menerus berpindah untuk mencari daerah subur bagi kelompoknya.
Kemajuan suatu bangsa didukung oleh sumber daya manusia paripurna dengan tiga elemen penting; sehat, cerdas, dan berkarakter baik. Namun, cita-cita untuk memajukan bangsa tersebut hanya akan menjadi mimpi semata ketika fenomena yang memperlihatkan karakter buruk kian mengemuka di negeri ini, dan hal yang paling menghawatirkan adalah kalangan pemuka Agama terlibat di dalamnya. Dalam posisi itu, kegagalan fitrah Agama adalah bidang yang sering menjadi bahan perbincangan, dan terutama pendidikan agama kian menjadi sorotan utama. Di tengah hegemoni perbincangan materi, model, dan penciptaan lingkungan dalam kondisi kekinian, (Iman, 2019)
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
Ia menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah; atas nama Tuhan.
Dialah yang telah mengajarkan dengan pena.
Mengajari manusia yang tidak ia ketahui. (Al-‘Alaq [96]: 1-5)
Ayat tersebut menjadi saksi bahwa, dalam dalam sejarah peradaban terdapat sebuah momentum historis yang ditandai sebagai momen pencerdasan atau revolusi epistemic yang menegaskan, manusia hadir bukan oleh kepemilikan materi semata. Namun oleh kesadaran, yang lahir dari pengetahuan. Dalam Sejarah islam yang agung, Nabi di perintahkan “Iqra” sebagai bentuk dialektika awal yang membebaskan manusia dari determinasi kebodohan dan struktur kuasa yang mengandalkan hegemoni atas ketidak tahuan.
Di dalam seruan tersebut, terkandung landasan bagi manusia untuk hadir pemimpin yang bijak: pemimpin yang tidak sebatas memerintah, tetapi mampu mengorganisir kehidupan umat untuk berpihak pada pengetahuan, keadilan, dan kemuliaan manusia. Ayat ayat tersebut memposisikan ilmu sebagai alat produksi kesadaran bijak, sekaligus sarana emansipasi dari relasi kuasa yang timpang. (P.D. Eko, 2005).
Pembahasan
A. Agama sebagai jalan Spiritual
Secara etimologi kata spirit berasal dari kata latin yaitu spiritus yang mengandung esensi ruh, jiwa, sukma, kesadaran diri. Filsuf Yunani mengonotasika kata spiritus dengan; kekuatan yang mendorong terhadap energi pada kosmos, kesadaran yang berkaitan pada kemampuan, keinginan, dan intelegensi. spiritual sebagai dimensi utama dalam memperkokoh kekuatan solidaritas beragama, berbangsa bahkan sebagai nilai fundamental dari kegiatan tersebut.
dalam hala ini Agama sebagai perekat sosial dari kelas bawah hingga kelas elit sekalipun
1. Hakikat Agama dalam tradisi klasik teknologi dan Funsi sosial agama
2. Dimensi batiniah dan kesadaran ritual
B. Munculnya modifikasi Agama
1. Kapitalisme dan logika pasar
2. Perkembangan teknologi dan digitalisasi
3. Popularitas figur public keagamaan